Petani Salassae berbagi Inspirasi Pertanian Alami di Inspirasi Bakti
Musim tanam padi belakangan ini membuat Pak Arman Tanggung menjadi “pengangguran”. Setelah menebar benih kemudian menamnya di sawah, praktis ia tidak mengerjakan apa-apa lagi. Ia hanya menghabiskan waktunya meniti pematang, berjalan-jalan di sekitar rumahnya, sesekali ngobrol dan diskusi bersama petani Salassae lain. Tidak ada lagi kegiatan pemupukan, penyemprotan dan penyiangan di sawahnya, namun 3 bulan kemudian dia panen.
Sebanyak 50an peserta diskusi Inspirasi BaKTI yang hadir sore itu terlihat bingung, mengapa demikian. Sebenranya, fakta ini diungkapkan Pak Arman untuk menekankan bahwa pertanian alami ataupun organik yang dilakukannya saat ini yang sering dicap ribet, merepotkan adalah tidak benar.
Ancaman utama dalam praktik pertanian yang mengandalkan bahan kimiawi adalah dampak dari penggunaan pestisida dan pupuk kimia. Sebagian besar petani di Indonesia melakukan penyemprotan pestisida tanpa menggunakan masker penutup hidung ataupun kaos tangan untuk melindungi kulit dari bahan kimia. Anak-anak yang sedang bermain di kebun atau di pekarangan rumah berisiko menghirup pestisida yang disemprotkan ke tanaman oleh orangtuanya.
Selain itu, penggunaan pupuk kimia berlebih juga mengakibatkan kerusakan tanah, yang mengakibatkan lahan menjadi tidak produktif. Lahan yang tidak produktif kemudian mendorong pergerakan petani untuk pergi meninggalkan desanya dan beralih profesi di negara lain.
Di Salassae dulunya, pertanian menggunakan bahan kimia dilakukan semua orang. Penggunaan pupuk dan pestisida ke lahan-lahan persawahan tanpa adanya kontrol. Seperti, jika rumput belum mati, maka dosis racun ditambahkan. Akibatnya, padi menjadi kurus dan tanah menjadi jenuh. Kelompok petani di Desa Salassae sepakat bahwa praktik pertanian menggunakan bahan kimia terbukti berbahaya dan merusak.
Salassae adalah sebuah desa di kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba. Waktu tempuh dari kota Bulukumba ke desa yang terkenal dengan aneka buah-buahan, hasil kebun dan beras alaminya ini adalah kurang lebih 45 menit.
Tingginya penggunaan pestisida inilah yang membuat Armin Salassa gelisah. Pada 2011, dengan modal cerita dan pengalaman bekerja sebagai tenaga lapangan di beberapa NGO, ia membuka wacana pada beberapa petani tentang pertanian alami dan ketahanan pangan.
Pestisida dan pupuk kimia kini mulai ditinggalkan, bahkan di Salassae persoalan kelangkaan pupuk tidak lagi menjadi isu. Saat ini pengembangan pertanian alami sudah mulai disebarkan di 25 desa tetangga, dan beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Perubahan pola pikir petani dari pertanian yang mengandalkan bahan kimia ke seratus persen mengandalkan bahan-bahan alami, adalah hal terbesar yang mendasari perubahan perilaku mereka.
Bukan hanya pola pikir yang mengalami perubahan, para petani di Salassae juga telah memiliki pengalaman berorganisasi. Masing-masing anggota Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS) menjadi fasilitator pertanian yang menyebar virus pengetahun pertanian alami demi mencapai tujuan ketahanan pangan.
Cerita tentang pertanian alami dan ketahanan pangan di desa Salassae merupakan salah satu praktik cerdas yang telah ditampilkan BaKTI pada Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VII di Makassar pada bula November tahun 2015 lalu.
Dibuka oleh Luna Vidya yang sore itu bertindak sebagai MC, Inspirasi BaKTI yang merupakan kegiatan reguler bulanan BaKTI pun dimulai. Pemutaran Film Salassae berdurasi 10 menit memberikan gambaran awal tentang pertanian alami Salassae kepada para peserta yang datang dari berbagai unsur.
Pemaparan pertama diberikan oleh Bapak Armin Salassa. Pak armin menjelaskan hal lain yang tidak tergambarkan di film. Pak armin memutuskan untuk bicara soal latar saja. Pak Armin tidak datang dari latar belakang petani. Petani Salassae tidak mengurusi pertanian, pertanian dijadikan tujuan saja.
Desa Salassae kata pak Armin, terdiri dari kurang lebih 4000 warga, 1000 an lebih memilih menjadi TKI yang sebelumnya adalah petani. Petani pergi karena janji kesejahteraan pertanian tidak bisa terpenuhi. Ternyata di perantauan sejahtera pun jauh api dari panggang, lalu akhirnya beberapa dari mereka kemudian pulang dan mendapati pertanian di desanya sudah hancur.
“Takdir petani adalah sejahtera tapi kenyataannya mereka paling miskin” kata pak Armin. Informasi pertanian alami mudah diakses, melalui internet. Informasi sangat murah namun yang mahal adalah keyakinan. Semua orang mulai kehilangan keyakinan. “Kami disksui dengan petani untuk memunculkan keyakinan, dan memunculkan cita-cita butuh waktu 6 bulan. Namun ada jalan pintas. Ada 3 hal yang hilang dan perlu dibenahi di republik ini yakni (1) Keyakinan dan bangunan cita-cita (2) Budaya dialog antar petani dan (3) Organisasi tani, ungkap Pak Armin.
Mengapa kita perlu pertanian alami? Karena pertanian alami produknya sesuai dengan doa. Pak armin berfilosofi bahwa jika kita berdoa untuk kesehatan anggota keluarga kita namun tetap mengkonsumsi makanan berpestisida maka percuma saja.
Pendidikan petani Salassae rata-rata adalah tamatan SD, SMP dan paling tinggi SMA. Petani yang tergabung dalam KSPS kemudian mengambil peran sebagai pelatih. Petani kemudian berlatih berbicara di depan umum agar dapat menjadi pelatih dan melatih di desa lain. Jumlah petani pelatih saat ini ada sekitar 50 orang. Petani pelatih ini bisa menjelaskan detail dari A sampai Z tentang apa itu pertanian alami. Petani pelatih ini berperan besar dalam proses penyebaran virus pertanian alami.
Peningkatan hasil pertanian dirasakan oleh petani Salassae, seperti Arman. Secara bertahap hasil panennya meningkat sejak mengaplikasi pertanian alami. Pada tahun pertama, ia hanya menghasilkan 15 karung per hektarnya, kemudian pada tahun kedua menjadi 20 karung. Saat ini hasilnya telah mencapai 25 karung.
Selain bertani, Pak Arman juga beternak ayam potong. Kandangnya tepat berdiri di belakang rumahnya. Sangat dekat dengan pintu belakang rumahnya. Namun ajaib, karena kandang ayam potong yang selama ini terkenal bau, punya pak Arman tidak. Ini karena Pak Arman menerapkan sistem alami dengan menggunakan microba 2 untuk menyemprot kandangnya. Selain itu, ayam pun sudah tidak divaksin kimia lagi sehingga hasilnya ayam Pak Arman berkualitas dan sehat untuk dikonsumsi.
“Ayamnya sehat, bisa melompat hingga lebih semeter, lincah seperti ayam kampung. Lemaknya tidak ada. Kandangnya tidak berbau,” ungkap Pak Arman.
Penglibatan Pemuda dan Perempuan
Kekuatan penyebarluasan pertanian alami yang dijalankan oleh petani di Salassae saat ini hanya mengandalkan kekuatan petani. Pendidikan menyeluruh terhadap petani yang didomuinasi orang tua dilakukan dengan pengetahuan standar seperti siklus tanaman, jadwal pemberian nutrisi, namun dipandang perlu juga untuk melibatkan pemuda sebagai bagian proses regenerasi petani alami. Saat ini sudah ada 129 pemuda di Salasase yang bersepakat untuk membangun desa dan melanjutkan sistem pertanian ini.
Dalam sistem pertanian alami Salassae, perempuan memegang peranan penting. Hal ini terungkap dari pemaparan Muhammad Nur, ketua Koperasi KSPS setelah menerima pertanyaan peserta diskusi dari Maupe Maros –sebuah organisasi pemerhati anak dan perempuan.
Pak Nur mengungkapkan bahwa peran perempuan lebih besar dibanding laki-laki karena perempuan lah yang paling paham bagaimana membuat pupuk-pupuk, mereka bahkan tahu dengan detail unsur-unur dan kegunaannya masing-masing.
Selain terlibat dalam pembuatan nutrisi, perempuan juga aktif dalam kegiatan koperasi seperti pembuatan, pengemasan dan pemasaran produk-produk makanan olahan berbahan alami seperti penganan Tintin, bahkan pimpinan LKMnya adalah perempuan. Perempuan juga dilibatkan dalam proses edukasi/penyuluhan pertanian.
Diskusi seru
Diskusi yang dihadiri sebanyak 53 peserta yang terdiri dari 38 peserta laki-laki dan 15 peserta perempuan sore itu berjalan seru. Pak Armin dan Pak Arman diberondong pertanyaan dan tanggapan. Tanggapan dan pertanyaan mulai dari apresiasi, pertanyaan detail yang lebih tekhnis, persoalan sertifikasi organik, hingga undangan dari dinas Pertanain Kota Pare kepada Pak Armin untuk sharing.
Peserta datang dari berbagai unsur seperti Dinas Pertanian Kota Makassar, Dinas Pertanian Kota Pare-pare, Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulsel, Dinas Koperasi Provinsi Sulsel, Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Akademisi, LSM, Mahasiswa, Media online maupun cetak dan peserta umum lainnya.
Sebagai tindak lanjut diskusi, atas undangan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kota Pare-Pare, pada tanggal 12 Agustus 2016 Pak Armin hadir pada kegiatan Pertemuan Komisi Penyuluhan Kota Pare Pare tahun 2016 untuk berbagi pandangan tentang Pertanian Alami.
Pertanian alami tidak sekedar tentang perlakuan organik terhadap tanaman ataupun ternak tetapi juga tentang perubahan pola pikir, bagaimana berorganisasi, tentang ketahanan dan kedaulatan pangan yang diharapkan akan bermuara pada kesejahteraan. Mengapa? Karena mengutip kalimat Pak Armin bahwa sesungguhnya takdir petani adalah sejahtera.
Komentar
Posting Komentar